Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2012

TERIMA KASIH BANYAK WAHAI MUSUH-MUSUHKU

Oleh : Arfan Bukroni di Salaf on Facebook
 
Oleh Ustadz Firanda Andirja Hafidzahullah

Seorang da'i berkata :
Apakah yang harus aku katakan kepada kalian wahai musuh-musuhku… Sungguh rasa gembira yang keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam…

Kalian telah benar-benar membantuku di dunia dan terlebih-lebih di akhirat…

Di akhirat kelak… kalian akan memikul banyak bebanku yang berat…padahal kalian sendiri benar-benar dalam keadaan lemah…sungguh ini merupakan kebaikan yang tiada bandingannya…

Kalian telah menghadiahkan kepadaku pahala-pahala amal kebajikan kalian kepadaku, di saat kalian benar-benar sangat membutuhkannya….sungguh kebaikan yang tiada tara…

Wahai kalian yang menggibahku…yang memakan hartaku…yang merendahkan harga diriku…yang berdusta atas namaku…yang hobi mencari-cari kesalahanku…sungguh kalian telah berbuat kebaikan yang tiada tara bagiku…, teruskanlah perjuangan kalian menzolimiku…

sungguh aku sangat butuh dengan hadiah kalian pada hari kiamat kelak…
Aku sangat butuh –pemberian- kalian untuk memperberat timbangan kebaikanku…

Sungguh betapa bahagianya aku tatkala aku tahu bahwasanya aku tidak bisa meraih tempat yang sangat mulia hanya sekedar mengandalkan amal kebajikanku?, akan tetapi berkat hadiah kalian akupun bisa meraih kedudukan mulia tersebut….karenanya jangan ragu-ragu untuk meneruskan perjuangan kalian menjatuhkan aku…!!!

Rasulullah bersabda,
أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكاَةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Tahukah kalian apa yang disebut dengan orang yang bangkrut?”, mereka (para sahabat) berkata, “Orang bangkrut yang ada diantara kami adalah orang yang tidak ada dirhamnya dan tidak memiliki barang”. Rasulullah berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan sholat, puasa, dan zakat. Dia datang dan telah mencela si fulan, telah menuduh si fulan (dengan tuduhan yang tidak benar), memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul si fulan. Maka diambillah kebaikan-kebaikannya dan diberikan kepada si fulan dan si fulan. Jika kebaikan-kebaikan telah habis sebelum cukup untuk menebus kesalahan-kesalahannya maka diambillah kesalahan-kesalahan mereka (yang telah ia dzolimi) kemudian dipikulkan kepadanya lalu iapun dilemparkan ke neraka” (HR Muslim no 2581)

Dikatakan kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwasanya si fulan telah mengghibahmu. Maka beliaupun mengirim sepiring makanan yang manis kepada orang yang telah mengghibahnya tersebut lalu berkata kepadanya, “Telah sampai kabar kepadaku bahwasanya engkau telah menghadiahkan (pahala) kebaikan-kebaikanmu kepadaku maka aku ingin membalas kebaikanmu tersebut” (Wafayaatul A’yaan 2/71)

Seorang penyair berkata:

يُشَارِكُ لَكَ الْمُغْتَابُ فِي حَسَنَاتِهِ وَيُعْطِيْكَ أَجْرَ صَوْمِهِ وَصَلاَتِهِ
فَكَافِهِ بِالْحُسْنَى وَقُلْ رَبِّ جَازِهِ بِخَبْرٍ وَكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ
فَيَا أَيُّهَا الْمُغْتَابُ زِدْنِي فَإِنْ بَقِيَ ثَوَابُ صَلاَةٍ أَوْ زَكاَةٍ فَهَاتِهِ
 
Orang yang mengghibahmu menyertakan engkau dalam kepemilikan kebaikan-kebaikannya
Dan ia menghadiahkan kepadamu pahala puasa dan sholatnya
Maka hendaklah engkau membalasnya dengan kebaikan dan katakanlah, “Wahai Tuhanku balaslah dia dengan kebaikan dan hapuslah dosa-dosanya”
Wahai orang yang menggibahku tambahlah hadiahmu kepadaku…
Jika masih tersisa pahala solatmu dan zakatmu maka berikanlah kepadaku.
readmore »»  

Sabtu, 03 November 2012

Benarkah pemakaman kaum shalihin adalah tempat terkabulnya doa?

Oleh : Nhawadaa Chan 
di Salaf on Facebook
 
Agaknya saudara kita yang satu ini benar-benar Quburi[1]. Dengan cara berdalil yang aneh bin ajaib, dia menyimpulkan bahwa kuburan merupakan tempat terkabulnya doa. Mana dalilnya? Dalilnya ialah bahwa dalam doa masuk pemakaman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan:

أَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ لَنَا وَلَكُمْ (رواه النسائي)…. يَغْفِرُ اللهُ لَنَا وَلَكُمْ (رواه الترمذي).

“Aku memohon kepada Allah untuk memberikan keselamatan kepada kami dan kalian semua” (HR. An Nasai), “Semoga Allah mengampuni kami dan kalian” (HR. Tirmidzi).[2]

Sebenarnya syubhat ini terlalu lemah untuk kita gubris. Tapi tak mengapa. Agar kita semua tahu bahwa tarekat yang dibela oleh Novel memang selalu berkutat dengan akal-akalan yang menggelikan. Karenanya, kita akan jawab secara logika saja.

Novel mengatakan: “Selain berdoa untuk mereka, dalam salam yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki pemakaman tertulis jelas bahwa beliau juga berdoa untuk dirinya (kemudian dia menyebutkan kedua hadits diatas). Kemudian lanjutnya: ”Dua hadis diatas menunjukkan bahwa pemakaman kaum Shalihin merupakan salah satu tempat terkabulnya doa. Oleh karena itu ketika berziarah kita dianjurkan untuk berdoa sebanyak mungkin…” dst.[3]

Saya katakan: Kalau begitu cara dia berdalil, mestinya di depan WC/toilet juga merupakan tempat terkabulnya doa, dan dia juga harus banyak-banyak berdoa di sana!! Mengapa? Perhatikan riwayat Anas bin Malik berikut:

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ : اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak masuk WC/toilet mengucapkan: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syaithan laki-laki dan perempuan” (HR Bukhari & Muslim).

Kemudian simaklah riwayat Aisyah yang mengatakan:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ قَالَ : غُفْرَانَكَ

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika keluar dari tempat buang hajat mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah aku”” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih).

Namun mengapa Novel tidak menjadikan muka WC/toilet sebagai tempat terkabulnya doa, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berdoa di sana? Barangkali jawabannya ialah karena setiap orang punya WC di rumahnya, jadi percuma saja kalau dia anjurkan orang-orang untuk berdoa di sana. Namun jika dikaitkan dengan kuburan, maka mereka akan rajin berziarah ke makam para ‘wali’, ‘shalihin‘ dan ‘haba-ib’, hingga pengaruh spiritual Novel dan orang-orang sepertinya tetap terjaga di masyarakat. Atau agar perayaan haul yang mereka adakan tiap tahun semakin ramai, hingga ‘pemasukan’ mereka makin bertambah! Wallahul musta’an…

Penulis: Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc

Mahasiswa Magister ‘Ulumul Hadits wad Dirasah Islamiyah Univ. Islam Madinah

Artikel www.muslim.or.id

[1] Artinya orang yang sangat gandrung kepada kuburan.
[2] Mana Dalilnya 1, hal 80.
[3] Mana Dalilnya 1, hal 82.
readmore »»  

Kamis, 04 Oktober 2012

DHARURIYYATUL-KHAMS (LIMA KEBUTUHAN PENTING YANG HARUS DIJAGA OLEH KAUM MUSLIMIN)


OlehSyaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari

Apa yang dimaksud dengan dharûriyyâtul-khams? Makna dharûriyyâtul-khams, yaitu menyangkut lima kebutuhan penting yang semestinya dijaga oleh kaum Muslimin. Dan dalam masalah ini, Al-Qur‘an dan as-Sunnah telah memberikan perhatian yang besar. Berikut ini ulasan berkaitan dengan pembahasan judul di atas. Kami angkat berdasarkan ceramah Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari pada Daurah Syar’iyyah I yang diselenggarakan oleh Yayasan Imam Bukhari, Jakarta, di Ciloto, Bogor, Jawa Barat, pada pertengahan bulan Februari 2007, dan mengacu dengan kitab Maqâshidusy- Syarî’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah, karya Dr. Yûsuf bin Muhammad Al-Badawi yang menjadi pegangan Syaikh dalam daurah tersebut
Dharûriyyâtul-khams yang dimaksudkan, yaitu meliputi penjagaan terhadap dîn (agama), jiwa, keturunan, akal, dan harta.
1. MENJAGA DIN (AGAMA).Ini merupakan dharûriyyât yang terpenting dan berada pada urutan tertinggi. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku. [Adz-Dzâriyat/51: 56]
Demikian tujuan hakiki dari penciptaan makhluk. Untuk mencapai tujuan inilah, maka para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan. Sebagaimana firman-Nya.
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu”. [An-Nisâ/4: 165].
Begitu juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiaptiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. [An-Nahl/16 : 36]
Agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga din (agama) dari kerusakan, karena din merupakan dharuriyat yang paling besar dan terpenting, maka syari’at juga mengharamkan riddah (murtad), memberi sanksi kepada orang yang murtad dan dibunuh. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
“Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia” [HR Bukhari]
Juga sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.
لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَ الْمُفَارِقُ لِدِينِهِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ
“Tidak halal darah seorang muslim (tidak boleh dibunuh, Red.), kecuali dengan salah satu di antara tiga sebab yaitu jiwa dengan jiwa, orang tua yang berzina (dibunuh dengan dirajam, Red.), orang yang murtad meninggalkan agamanya dan jama’ahnya” [HR Bukhari]
Ini semua untuk menjaga din. Realisasinya dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya dengan :
(a). Beriman kepada Allah Azza wa Jalla, mencintai-Nya, mengagungkan-Nya, mengetahui Asmâ dan Sifat Allahl.(b). Berpegang teguh dengan agama, mempelajarinya, lalu mendakwahkannya.(c). Menjauhi dan memperingatkan dari perbuatan syirik dan riya’.(d). Memerangi orang-orang yang murtad.(e). Mengingatkan dari perbuatan bid’ah dan melawan ahlul bid’ah.[1]
2. MENJAGA JIWA (HIFZHUN-NAFSI).Menjaga jiwa juga termasuk dharûriyatul-khamsi, dan din tidak akan bisa tegak, jika tidak ada jiwa-jiwa yang menegakkannya. Kalau kita ingin menegakkan din, artinya, kita harus menjaga jiwa-jiwa yang akan menegakkan din ini. Untuk menjaga dan memuliakan jiwa-jiwa ini, Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa” [Al-Baqarah/2:179]
Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla menjadikan qishash sebagai salah satu sebab kelestarian kehidupan, padahal qishash itu merupakan kematian. Mengapa? Karena, dengan keberadaan hukum qishash, maka para pelaku kriminal menjadi jera, kehidupan pun menjadi aman. Jadi, qishash merupakan salah satu sebab terwujudnya kehidupan yang damai, tenang, dan dalam naungan hidayah.
وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ
“: (Di antara sifat hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang yaitu) tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina”. [Al-Furqân/25: 68]
Yang disebut dengan al-haq (kebenaran), yaitu harus dengan dalil dan bukti. Jika tidak, berarti melakukan pembunuhan tanpa alasan yang benar. Dan berdasarkan Al-Qur‘an dan as-Sunnah, melakukan pembunuhan tanpa alasan yang benar, hukumnya terlarang.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang penjagaan terhadap jiwa:
مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
“Barangsiapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung lalu dia membunuh dirinya (mati), maka dia akan berada dalam Neraka Jahannam dalam keadaan melemparkan diri selama-lamanya”. [HR Imam Bukhari]
Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap seseorang yang berpendapat “saya bebas melakukan apa saja atas diri saya”. Perkataan seperti ini merupakan perkataan keliru, karena di dalam Al- Qur`anul-Karim disebutkan tentang ucapan yang benar, sebagai petunjuk bagi kaum Mukminin jika tertimpa musibah. Allah Azza wa Jalla berfirman.
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” [Al-Baqarah/2: 156]
Inna lillahi (sesungguhnya kita milik Allah) dengan demikian, kita ini milik Allah Azza wa Jalla, tidak boleh berbuat sewenang-wenang atas diri kita, tidak boleh menyengaja melukai tangan sendiri lalu berkata “ini tangan saya, saya bebas melakukan apa saja terhadapnya”. Apalagi sampai mengatakan “ini adalah jiwaku, saya ingin membunuh diri atau menjatuhkan diri dari gunung, atau menenggak racun”, maka semua ini tidak boleh, karena termasuk berbuat sewenangwenang pada sesuatu yang bukan miliknya.
Wahai Hamba Allah! Jiwa yang pada dirimu itu adalah milik Pencipta dan Rabbmu, Dzat yang engkau ibadahi, yaitu Allah Azza wa Jalla . Engkau tidak boleh berbuat sewenang-wenang padanya.
Dalam hadits “barangsiapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung lalu dia membunuh dirinya (mati), maka dia akan berada dalam Neraka Jahannam dalam keadaan melemparkan diri selama-lamanya” terdapat pelajaran yang bisa kita ambil. Bahwa orang tersebut kekal selamanya dalam Neraka Jahannam, sedangkan di dalam Ahlu Sunnah wal-Jama’ah –di antaranya terdapat kaidah- Perbuatan dosa-dosa besar termasuk dalam kategori dosa-dosa yang bisa diampuni Allah Azza wa Jalla jika Allah berkehendak. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” [An-Nisâ/4: 48]
Bunuh diri, termasuk dalam bagian pertama ayat ini, ataukah bagian yang kedua? Apakah bunuh diri termasuk syirik, ataukah berada di bawah syirik? Jawabnya, bunuh diri termasuk dalam dosa di bawah dosa syirik. Namun dalam hadits itu dijelaskan, dia kekal selamanya di neraka. Lantas bagaimana jawabnya?
Para ulama mengatakan, pengertian hadits ini dibawa kepada orang yang membunuh diri, karena ia menganggapnya halal, atau karena meremehkan hukum syari’at, bukan karena maksiat semata, baik yang kecil maupun yang besar. Akan tetapi, ini merupakan pelanggaran terhadap dasar hukum syari’at, dia menentangnya dan menghalalkannya. Dalam kondisi seperti itu, maka dosa maksiat ini menjadi dosa kekufuran.
Oleh karena itu, Abu Ja’far ath-Thahawi, di dalam kitab ‘aqidah beliau yang masyhur, beliau mengatakan: “Kami tidak mengkafirkan ahlul-qiblah (kaum Muslimin) dengan sebab dosa, selama dia tidak menganggapnya halal.”
Pelaku perbuatan dosa ini, jika menganggapnya halal, maka dia menjadi kafir, meskipun perbuatan dosa tersebut lebih kecil atau lebih sedikit dari bunuh diri.
Secara ringkas, hifzhun-nafs dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:
(a). Pada saat darurat (sangat terpaksa), wajib memakan apa saja demi menyambung hidup, meskipun yang ada saat itu sesuatu yang haram pada asalnya.(b). Memenuhi kebutuhan diri, berupa makanan, minuman dan pakaian.(c). Mewajibkan pelaksanaan qishash (hukum bunuh bagi yang membunuh, jika sudah terpenuhi syarat-syaratnya, Red.) dan mengharamkan menyakiti atau menyiksa diri [2]
3. MENJAGA AKAL (HIFZHUL-AQLI).Sarana untuk menjaga akal ialah ilmu.Kalimat wahyu pertama kali yang sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyentuh telinga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah kalimat iqra’ (bacalah!), setelah itu kalimat:
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“(Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. [Al-Alaq/96: 5]
Karena membaca merupakan jalan mendapatkan ilmu, meskipun bukan jalan satu-satunya, akan tetapi dia merupakan jalan terpenting.
Dalam nash Al-Qur‘an yang lain, Allah berfirman,
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“(dan katakanlah: “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” [Thaha/20 : 114]
Akan tetapi ilmu ini wajib diiringi dengan amal perbuatan. Ilmu bukan sekedar untuk diketahui, namun dengan ilmu agar bertakwa, beramal shalih, serta menjauhan diri dari perbuatan maksiat dengan landasan takwa kepada Allah Azza wa Jalla . Karenanya dalam firman Allah surat Al-Maidah ayat 91 disebutkan.
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ
“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan berjudi itu menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.
Khamr dan perjudian telah menyebabkan manusia terhalang dari jalan Allah k dan bisa menghilangkan akal (kesadaran), sedangkan akal sangat dibutuhkan manusia untuk memahami perintah dan hukum-hukum syari’ah.
Dalam ayat ini, setelah Allah Azza wa jalla menjelaskan hukum syar’i dan menjelaskan kewajiban, kemudian seolah-olah Allah Azza wa Jalla hendak menggugah perhatian manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: (maka berhentilah kamu [dari mengerjakan pekerjaan itu]). Mengapa kalian tidak berhenti dari hal-hal yang kalian dilarang darinya, berupa kebiasaan orang-orang Jahiliyah, yaitu khamr dan perjudian? Sedangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:.
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ
“Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan semua khamr itu haram”.
Meskipun banyak pabrik membuat produk, lalu setan membuat istilah-istilah untuk produk tersebut, namun kita memiliki kaidah yang mencakup semua nama, meskipun nama tersebut baru dan dirubahrubah, tetapi, setiap yang memabukkan adalah khamr, dan semua khamr itu haram.
Dan bahwasanya, untuk menjaga kebaikan akal, maka syari’at mengharamkan semua yang bisa merusaknya, baik yang maknawi (abstrak) seperti perjudian, nyanyian, memandang sesuatu yang diharamkan, maupun yang bersifat fisik seperti khamr, narkoba serta memberikan sanksi kepada yang melakukannya.[3]
4. MENJAGA KETURUNAN (HIFZHUN-NASLI).Di antara dharûriyyâtul-khams yang dipelihara dan dijaga dalam syari’at, yaitu menjaga keturunan. Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. [Al-Isrâ/17: 32]
Bentuk penjagaan agar manusia menjauhkan manusia dari perbuatan zina, maka syari’at memperbolehkan dan menganjurkan pernikahan poligami, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla menyebutkan.
فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ
“Maka kawinilah wanita wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat”[An-Nisâ/4: 3]
Nabi Shallallahu ‘alaihiwa sallam juga bersabda :
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka hendaklah dia menikah. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah dia melakukan puasa (sunat). Karena sesungguhnya puasa itu menjadi obat bagi dia”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Seorang pezina tidak akan melakukan perbuatan zina, sedangkan dia dalam keadaan beriman”.
Dalam sebagian riwayat dijelaskan, iman tercerabut darinya. Jika ia berhenti dari berzina, maka keimanannya kembali kepadanya. Semua nash-nash ini untuk menjaga keturunan.
Pemeliharaan keturunan ini, bisa dilihat dari beberapa hal berikut:(a). Anjuran untuk melakukan pernikahan.(b). Persaksian dalam pernikahan.(c). Kewajiban memelihara dan memberikan nafkah kepada anak, termasuk kewajiban memperhatikan pendidikan anak.(d). Mengharamkan nikah dengan pezina.(e). Melarang memutuskan untuk thalaq jika tidak karena terpaksa.(f). Mengharamkan ikhtilâth. [4]
5. MENJAGA HARTA (HIFZHUL-MALI).Bagian terakhir dari dharuriyâtul-khams yang dijaga oleh syari’at. Yakni sesuatu yang menjadi penopang hidup, kesejahteraan dan kebahagiaan, yaitu menjaga harta. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:
وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan” [An-Nisâ‘/4 : 5]
Maksudnya, kemapanan keberadaan manusia ialah dengan harta. Oleh karenanya terdapat perintah mengeluarkan zakat, shadaqah. Dan zakat merupakan hak Allah k . Sehingga orang yang berhak menerimanya terjaga dan harta yang mengeluarkannya juga menjadi bersih dan suci.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَعَنَ اللَّهُ السَّارِقَ يَسْرِقُ الْبَيْضَةَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ
“Allah Azza wa Jalla melaknat pencuri yang mencuri telur, lalu tangannya dipotong”.
Dalam syari’at Allah yang bijak ini, juga terdapat larangan melakukan perbuatan tabdzir (pemborosan). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya”. [Al-Isrâ : 26-27]
Begitu juga Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang isrâf (berlebih-lebihan), sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya.
وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [Al-An’am/6 :141]
Di antara cara dalam pemeliharaan harta ialah:(a). Islam mewajibkan beramal dan berusaha.(b). Memelihara harta manusia dalam kekuasaan mereka.(c). Islam menganjurkan bershadaqah, memperbolehkan jual beli dan hutang-piutang.(d). Islam mengharamkan perbuatan zhalim terhadap harta orang lain dan wajib menggantinya.(e). Kewajiban menjaga harta dan tidak menyia-nyiakannya.[5]
Demikian beberapa nash dari Al-Qur‘an dan as- Sunnah, yang berkaitan dengan dharûriyyâtul-khams .
Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kemudahan kepada kaum Muslimin lainnya untuk memahaminya, sehingga semakin menambah dan mengokohkan keyakinan terhadap kebenaran din, agama yang haq ini. Wallahu a’lam bish-Shawab
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XI/1428/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]_______Footnote[1]. Maqâshidusy-Syarî’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah, hlm. 448-458[2]. Maqâshidusy-Syarî’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah, hlm. 462-465.[3]. Maqâshidusy-Syarî’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah, hlm. 467-468.[4]. Maqâshidusy-Syarî’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah, hlm. 473-478.[5]. Maqâshidusy-Syarî’ah ‘Inda Ibni Taimiyyah, hlm. 481-487http://almanhaj.or.id/content/3373/slash/0/dharuriyyatul-khams-lima-kebutuhan-penting-yang-harus-dijaga-oleh-kaum-muslimin/
readmore »»  

Kamis, 05 Juli 2012

Mutiara Aqidah Islam Bagian 21 : Iman Kepada Malaikat (Bagian 4 - Selesai)

Oleh : Prima Ibnu Firdaus di Salaf on Facebook


Mutiara Aqidah Islam Bagian 22 :
Iman Kepada Malaikat – Malaikat Allah Subhanahu wa ta’ala.


Mana yang Lebih Utama : Orang Shalih atau para Malaikat?
Syaikh Prof.DR.Umar Sulaiman Al-Asyqar hafizhullah berkata :
“Dengan mengacu kepada pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, maka masalah ini akan menjadi jelas. Beliau mengatakan bahwa manusia yang shaleh akan lebih unggul pada akhirnya yakni ketika mereka memasuki surga karena mereka memperoleh kedekatan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya :
“Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” [al-Quran surat Shaad ayat 25] Ditempatkan pada derajat yang paling tinggi, bahkan didekatkan lebih dekat lagi, Allah Subhanahu wa ta’ala menampakkan diri kepada mereka dan mereka sangat gembira karena dapat memandang wajah Allah Subhanahu wa ta’ala yang mulia dan para malaikat akan berdiri melayani mereka dengan izin Allah Subhanahu wa ta’ala.

Tetapi para malaikat lebih baik pada permulaan nya, karena para malaikat pada saat ini lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Mereka berada diatas hal – hal yang dapat dilakukan anak Adam (manusia) dan mereka sibuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Tidak diragukan lagi, bahwa keadaan mereka pada saat ini lebih sempurna dan utama dibandingkan manusia.” [Lihat, Majmu’ al-Fatawa Ibnu Taimiyyah 11/350. Dinukil dari kitab Alam Malaikat (Menyingkap Rahasia Alam Malaikat hal 136), Syaikh Prof.DR.Umar Sulaiman al-Asyqar]


Hikmah Beriman Kepada Malaikat Allah Subhanahu wa ta’ala

  1. Mengetahui keagungan Allah Subhanahu wa ta’ala, kekuatan-Nya, serta kesempurnaan kekuasaan-Nya, sebab kehebatan makhluk sekaligus menunjukkan kehebatan atau keagungan Pencipta itu sendiri, sehingga seorang mukmin semakin bertambah keimanan nya didalam mengangungkan dan membesarkan Allah Subhanahu wa ta’ala.
  2. Istiqamah untuk taat kepada Allah, yakni siapa saja yang beriman kepada malaikat yang senantiasa menulis amalnya, maka yang demikian menumbuhkan rasa takutnya kepada Allah dan tidak bermaksiat kepada-Nya, baik ketika bersama orang banyak maupun ketika sendiri.
  3. Sabar dalam ketaatan kepada Allah dan merasa kenyamanan dan ketenangan, yaitu ketika seorang mukmin yakin bahwa ia di alam semesta yang luas ini, dirinya bersama ribuan malaikat yang menjalankan ketaatan kepada Allah secara sempurna dan istimewa.
  4. Beryukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas perhatian-Nya kepada anak cucu Adam (yakni Manusia) karena Allah telah menciptakan malaikat yang bertugas menjaga dan memberi keamanan.
  5. Sadar bahwa dunia ini hanyalah fana, tidak kekal, yaitu  ketika ia ingat ada malaikat maut yang diperintahkan untuk mencabut nyawa ketika Allah Subhanahu wa ta’ala mewafatkan nya, sehingga ia bersemangat mempersiapkan diri untuk hari akhir dengan iman dan amal shalih. [Muqarar at-Tauhid (Kitab Tauhid Lanjutan hal 51-52), cet As-Salam]
  6. Mencintai para Malaikat atas apa yang telah mereka laksanakan berupa ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, berdoa dan beristighfar bagi orang – orang mukmin. Seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala tentang doa para malaikat :
“(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar." [al-Quran surat Al-Mu’min ayat 7 – 9] [Mukhtashar Al-Fiqih Al-Islam (Ensiklopedi Islam hal 129 – 130), cet Darus Sunnah]

Alhamdulillah, selesai pembahasan Iman kepada Malaikat Allah Subhanahu wa ta'ala.

Jambi, 4 Juli 2012

Abu Abdillah Prima Ibnu Firdaus ar-Roni al-Mirluny
readmore »»  

Syarah Kitab Tauhid Bagian 2

Oleh Maktabah Manhaj Salaf dan Ismail Saepudin di Salaf on facebook

--------oOo--------

بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ


==============
Kedua: Tauhid Uluhiyah [1]
==============
Tauhid ini dikatakan pula Tauhid Ibadah dengan dua pertimbangan:

1. Pertama: karena penisbatannya kepada Allah yang dinamakan dengan Tauhid Uluhiyah (Mengesakan Ketuhanan)

2. Kedua: karena penisbatannya kepada makhluk yang dinamakan dengan Tauhid Ibadah (Mengesakan Peribadahan)

Yang mana maksudnya adalah mengesakan Allah dalam ibadah, maka yang berhak diibadahi hanya Allah (semata).

Firman-Nya:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Luqman: 30)

Istilah Ibadah dapat diperuntukan bagi dua hal:

الأول: التعبد فهي بمعنى التذ لل للَّه عز وجل بفعل أوامره واجتنبا نواهيه محبة وتعظيمًا

Pertama: At-Ta'abudu yang berarti ketundukan kepada Allah 'azza wa jalla dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya karena rasa cinta dan pengagungan.

الثاني: المتعبد به فمعناها كما قال شيخ الْإسلام ابن تيمية رحمه اللَّه: اسم جامع لكل مايحبه اللَّه و يرضاه من الأقوال والأ عمال الظاهرة والبا طنة

Kedua: Al-Muta'abadu bihi artinya sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “Nama yang mencakup apa pun yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan dan perkataan yang zahir maupun batin.”

Semisal: Shalat, Pelaksanaannya adalah Ibadah dan juga ketundukan (التعبد )Shalat itu sendiri merupakan ibadah dan juga (المتعبد به )

Pengesaan Allah dengan Tauhid ini:
Hendaklah engkau menjadi hamba bagi Allah saja, (yang) mengesakan-Nya dalam kecintaan dan pengagungan --[[ dan dalam ketundukan serta beribadah kepada-Nya dengan sesuatu yang disyariatkan-Nya]]--

Firman-Nya:

لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا

“Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (Al-Israa': 22)

Dan Firman-Nya:الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (Al-Fatihah: 2)Bahwa Dia (Allah) disifati sebagai Rabb semesta alam, seperti pemberian alasan tentang ketetapan Uluhiyah bagi-Nya, Dia-lah ilah (Tuhan) karena Dia Rabb semesta alam.

Dan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian.” (Al-Baqarah: 21)

Dengan demikian Yang diesakan dalam penciptaan adalah yang berhak diibadahi (disembah), karena suatu kebodohan jika engkau menjadikan makhluk (yang diciptakan) yang baru dan fana sebagai ilah (Tuhan) yang engkau sembah.

Pada hakikatnya ia (yang disembah selain Allah,-pen) tidak memberikan manfaat apapun untukmu, tidak pula mampu mengadakan, tidak pula menyiapkan dan tidak pula mampu mengulurkan.


Maka diantara kebodohan pula jikalau engkau menghampiri kuburan manusia yang sisa tulang-belulang, lalu engkau berdoa dan menyembahnya. Padahal dia (si mayit) mengharapkan doa anda, dan engkau bukannya meminta doa darinya, sebab dia (si mayit) tidak berkuasa atas dirinya sendiri untuk memberikan manfaat dan tidak bisa menghilangkan mudharat, maka bagaimana mungkin dia berkuasa melakukannya untuk orang lain ?!!

Dan seandainya ada manusia yang paling mulia disisi Allah maka dia adalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

Firman-Nya:

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri.”(Al-Baqarah: 130)

Dan banyak yang kufur dalam jenis tauhid ini serta pada umumnya makhluk mengingkarinya dengan keras oleh karenanya Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab (kepada mereka).

Firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (Al-Anbiya: 25)

Meskipun demikian orang-orang yang mengikuti para Rasul ini hanya sedikit, sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

فَرَ أَيْتَ النَّبِيَّ وَ مَعَهُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيَّ وَ مَعَهُ الرَّجُلُ وَ الرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Maka kulihat seorang nabi beserta segolongan orang, ada nabi beserta satu atau dua orang dan ada nabi yang tak seorang pun besertanya.” [2]

PERINGATAN:
Yang mengherankan bahwa kebanyakan penulis dalam ilmu Tauhid dari kalangan Muta`akhirin hanya memfokuskan pada Tauhid Rububiyah, seakan-akan mereka sedang berbicara dengan kaum yang mengingkari wujud Rabb - meskipun memang ada yang mengingkari-Nya - Tetapi betapa banyak orang-orang muslim pada yang terjerumus di dalam syirik Ibadah.

Oleh karena itu harus ada perhatian yang lebih fokus kepada jenis Tauhid (uluhiyah) ini, sehingga kita dapat mengeluarkan orang-orang muslimin yang berkata:“Bahwasanya mereka orang-orang Muslim, padahal mereka itu musyrik, dan mereka tidak mengetahuinya.


[Alhamdulillah, Risalah bag.2 ini telah selesai disusun oleh Tim Maktabah Manhaj Salaf pada hari Selasa, 6 Sya'ban 1433 H / 26 Juni 2012 (07:55 WIB), Tangerang]

______________________________
1. Disalin dari kitab Al-Qaulul Mufid 'Ala Kitabit Tauhid oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Juz I, hal. 9-11 Cet. Daar al-'Ashimah

2. Dari hadits Ibnu 'Abbas, ditakhrij oleh Al-Bukhari - kitab Ath-Thibb / Bab Man Iktawa Au Kawa Ghairahu 10/155, dan Muslim kitab Al-Imaan / Bab Ad-Dalil 'ala Dukhul Thawaif minal Muslimin Al-Jannah bighairihi Hisab walaa 'adzab 1/199 —
readmore »»  

Empat Kaidah Mengetahui Fenomena Kesyirikan [القواعــد الأربـع]

 Oleh Maktabah Manhaj Salaf di Salaf on facebook 
القواعــد الأربـع
Empat Kaidah Mengetahui Fenomena Kesyirikan
للشيخ محمد بن عبد الوهاب
Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
بسم الله الرحمن الرحيم
أسأل الله الكريم ربّ العرش العظيم أن يتولاّك في الدنيا والآخرة، وأن يجعلك مبارَكـًا أينما كنت، وأن يجعلك ممّن إذا أُعطيَ شكر، وإذا ابتُلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإنّ هؤلاء الثلاث عنوان السعادة.
اعلم أرشدك الله لطاعته: أن الحنيفيّة ملّة إبراهيم: أن تعبد الله مخلصـًا له الدين كما قال تعالى ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِِ﴾[الذاريات:56]. فإذا عرفت أنّ الله خلقك لعبادته فاعلم: أنّ العبادة لا تسمّى عبادة إلا مع التوحيد، كما أنّ الصلاة لا تسمّى صلاة إلى مع الطهارة، فإذا دخل الشرك في العبادة فسدتْ كالحدَث إذا دخل في الطهارة. فإذا عرفتَ أن الشرك إذا خالط العبادة أفسدها وأحبط العمل وصار صاحبه من الخالدين في النار عرفتَ أنّ أهمّ ما عليك: معرفة ذلك، لعلّ الله أن يخلّصك من هذه الشَّبَكة، وهي الشرك بالله الذي قال الله فيه: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾[النساء:116], وذلك بمعرفة أربع قواعد ذكرها الله تعالى في كتابه.

Muqodimah
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku meminta kepada Allah Yang Maha Pemurah, Rabbnya Arsy yang besar, agar Dia menjadikan anda sebagai wali-Nya di dunia dan di akhirat, menjadikan anda sebagai orang yang diberkahi dimanapun anda berada dan menjadikan anda termasuk golongan orang-orang yang jika diberikan sesuatu maka dia bersyukur, jika ditimpakan ujian maka dia bersabar, dan jika dia berdosa maka segera meminta ampunan. Karena ketiga sifat ini merupakan tanda kebahagiaan hidup seseorang.
Ketahuilah –semoga Allah Ta’ala memberikan tuntunan kepada anda-, sesunguhnya al-hanifiah adalah agamanya Nabi Ibrahim: Yaitu anda beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyaat: 56).
Dan bila Anda telah mengetahui bahwasanya Allah Ta’ala menciptakan anda untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah: Bahwa ibadah tidak teranggap dia ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah teranggap sebagai shalat kecuali jika disertai dengan bersuci. Karenanya jika ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana rusaknya shalat bila disertai adanya hadats.
Kalau anda sudah mengetahui bahwa ibadah yang bercampur dengan kesyirikan akan merusak ibadah itu sendiri, bahwa hal itu menyebabkan terhapusnya semua amalan pelakunya (musyrik) dan menyebabkan pelakunya menjadi orang-orang yang kekal di dalam api neraka.
Kalau anda sudah mengetahui semua perkara di atas, niscaya anda akan mengetahui bahwa perkara yang terpenting untuk anda ketahui adalah mempelajari masalah ini (kesyirikan), semoga dengannya Allah berkenan membebaskan anda dari jaring-jaring kerusakan ini. Yaitu kesyirikan kepada Allah Ta’ala, yang Allah Ta’ala telah berfirman tentangnya:“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang berada di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’ : 116)
Pengetahuan akan hal ini(kesyirikan)akan mampu diraih dengan memahami 4 kaidah yang telah Allah nyatakan dalam Kitab-Nya
الأولى
أن تعلم أنّ الكفّار الذين قاتلهم رسول الله يُقِرُّون بأنّ الله تعالى هو الخالِق المدبِّر، وأنّ ذلك لم يُدْخِلْهم في الإسلام، والدليل: قوله تعالى﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾[يونس:31].
Kaidah pertama:
Anda harus meyakini bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta, dan yang mengatur segala urusan. Meskipun demikian, hal itu tidaklah lantas menyebabkan mereka masuk ke dalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (menghidupkan dan mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab:’Allah’. Maka katakanlah:’Mengapa kalian tidak bertakwa [kepada-Nya]”. (QS. Yunus: 31).
الثانية
أنّهم يقولون: ما دعوناهم وتوجّهنا إليهم إلا لطلب القُرْبة والشفاعة، فدليل القُربة قوله تعالى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3].
ودليل الشفاعة قوله تعالى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18]،
والشفاعة شفاعتان: شفاعة منفيّة وشفاعة مثبَتة:فالشفاعة المنفيّة ما كانت تٌطلب من غير الله فيما لا يقدر عليه إلاّ الله، والدليل: قوله تعالى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254].
والشفاعة المثبَتة هي: التي تُطلب من الله، والشّافع مُكْرَمٌ بالشفاعة، والمشفوع له: من رضيَ اللهُ قوله وعمله بعد الإذن كما قال تعالى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255].
Kaidah kedua:
Mereka (musyrikin) berkata: “Kami tidak berdo’a dan tidak menyerahkan ibadah kepada mereka (sembahan selain Allah) kecuali untuk meminta qurbah (kedekatan kepada Allah) dan syafaat (mereka nantinya akan memberi syafa’at kepada kami, pent.)
Dalil tentang pendekatan diri adalah firman Allah Ta’ala:“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):”Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”. (QS. Az-Zumar: 3).
Adapun dalil tentang syafa’at adalah firman Allah Ta’ala:“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka (musyrikin) berkata: “Mereka (sembahan selain Allah) itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah:”Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak [pula] di bumi” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan [itu]”. (QS. Yunus: 18).
Syafa’at itu ada 2 macam:1. Syafa’at manfiyah (yang ditolak keberadaannya).2. Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan keberadaannya).
Syafa’at manfiyah adalah syafa’at yang diminta kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, pada perkara yang tidak seorangpun sanggup memberikannya kecuali Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah [di jalan Allah] sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Baqarah : 254).
Syafa’at mutsbatah adalah syafa’at yang diminta dari Allah Subhanahu wata’ala. Makhluk yang memberikan syafa’at itu dimuliakan (oleh Allah) dengan (kemampuan memberikan) syafa’at, sedangkan yang akan diberikan syafa’at adalah orang yang Allah ridhai baik ucapan maupun perbuatannya, itupun setelah Allah mengizinkan. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:“Siapakah yang mampu memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?”. (QS. Al-Baqarah : 255).
القاعدة الثالثة
أنّ النبي ظهر على أُناسٍ متفرّقين في عباداتهم منهم مَن يعبُد الملائكة، ومنهم من يعبد الأنبياء والصالحين، ومنهم من يعبد الأحجار والأشجار، ومنهم مَن يعبد الشمس والقمر، وقاتلهم رسول الله ولم يفرِّق بينهم، والدليل قوله تعالى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾[البقرة:193].
ودليل الشمس والقمر قوله تعالى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾[فصلت:37].
ودليل الملائكة قوله تعالى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾[آل عمران:80].
ودليل الأنبياء قوله تعالى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾[المائدة:116].
ودليل الصالحين قوله تعالى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ… ﴾الآية[الإسراء:57].
ودليل الأحجار والأشجار قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى(19)وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾[النجم:19-20].
وحديث أبي واقدٍ الليثي قال: خرجنا مع النبي إلى حُنين ونحنُ حدثاء عهدٍ بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها: ذات أنواط، فمررنا بسدرة فقلنا: يا رسول الله إجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط… الحديث.
Kaidah ketiga:
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia yang beraneka ragam dalam cara penyembahan mereka. Di antara mereka ada yang menyembah para malaikat, di antara mereka ada yang menyembah para nabi dan orang-orang shalih, di antara mereka ada yang menyembah pepohonan dan bebatuan serta di antara mereka ada pula yang menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak membeda-bedakan di antara mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:“Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan dien ini menjadi milik Allah semuanya”. (QS. Al-Baqarah : 193).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada) matahari dan bulan adalah firman Allah Ta’ala:“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. (QS. Fushilat : 37).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada para) malaikat adalah firman Allah Ta’ala:“Dan dia (Muhammad) tidak pernah memerintahkan kalian untuk menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai sembahan-sembahan”. (QS. Ali Imran: 80).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada para) Nabi adalah firman Allah Ta’ala:“Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (QS. Al-Maidah : 116).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada) orang-orang shaleh adalah firman Allah Ta’ala:” Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat [kepada Allah] dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” (QS. Al-Isra` : 57).
Dalil (akan adanya penyembahan kepada) pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Ta’ala:“Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Lata dan Al-Uzza, serta Manat yang ketiga.” (QS. An-Najm: 19-20)
Dan hadits Abi Waqid Al-Laitsi, dia berkata:“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru saja lepas dari kekafiran (muallaf). Sementara itu, orang-orang musyrikin mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka bisa berdiam (i’tikaf) di sisinya dan mereka bisa menggantungkan senjata-senjata mereka di situ (untuk cari berkah sebelum perang, pent.). Pohon itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath (Yang mempunyai tali-tali untuk menggantung). Kami kemudian melalui pohon bidara itu, lalu [sebagian dari] kami mengatakan: “Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (musyrikin) mempunyai Dzatu Anwath….” sampai akhir hadits.
القاعدة الرابعة
أنّ مشركي زماننا أغلظ شركـًا من الأوّلين، لأنّ الأوّلين يُشركون في الرخاء ويُخلصون في الشدّة، ومشركوا زماننا شركهم دائم؛ في الرخاء والشدّة. والدليل قوله تعالى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾[العنكبوت:65].
Kaidah keempat:
Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita (masa Syaikh, pent.) lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin zaman dahulu (masa Nabi, pent.). Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan lapang dan mereka mengikhlaskan (ibadah kepada Allah) ketika mereka dalam keadaan sempit.
Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus menerus, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah]. ” (QS. Al-Ankabut: 65).

  • Disusun Oleh: Abu Amina Al Anshariy El Jawiy Pada Maktabah Ma’had Anshorulloh As Salafy
  • Dipostkan oleh: Iman Abu Dzakirah
readmore »»  

Minggu, 01 Juli 2012

Tiga Landasan Utama beserta dalilnya - الأصول الثلاثة وأدلتها - Three Main Fundamentals with the textual proof

Oleh Yudha IbnuAbdil Ghany Al-Bughury dan ٱسمي عارف di Salaf on facebook

بسم الله الرحمن الرحم
لشيخ الإسلام  محمد بن عبدالوهاب
 By Sheikh of Islam Muhammad bin Abdul Wahab
(Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab)

We seek help of Allah and ask Him to bless and praise our Prophet Muhammad, his household and companions
(Kita memohon keselamatan kepada Allah dan semoga Shalawat serta salam tercurahkan untuk Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, ahlul bait dan pengikutinya yang setia)

اعلم رحمك الله أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل:
Knowledge May Allah bless you that we are obliged to tknow the four matters:
(Ketahuilah semoga Allah merahmatimu bahwa wajib untuk kita mengetahui empat masalah)

لأولى: العلم، وهو معرفة الله، ومعرفة نبيه، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة.
First: Science ; Knowing Allah, His Prophet and religion of Islam with its textual proof
(Pertama: Ilmu ; Mengenal Allah, Mengenal Nabi-Nya dan Mengenal Agama Islam dengan dalil) 

الثانية: العمل به.
Second: Work ; Aplication of the Knowledge
(Amal, Menerapkan Ilmu ini)

الثالثة: الدعوة إليه.
Third: Preaching it (is inviting people to this knowledge - translator)
(Mendakwahkannya [Mengajak orang lain untuk mengamalkan ilmu ini - Pent] )

الرابعة:الصبر على الأذى فيه.
Fourth: Patience, is steadfast and resilient to face any hurdle in studying, practice it and preach to him.
(Sabar, ialah tabah dan tangguh menghadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu, mengamalkannya dan berdakwah kepadanya.)

والدليل قوله تعالى بسم الله الرحمن الرحيم: وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [العصر:1-3
And the textual proof is the words of Allah the almighty - In the name of Allah:
(dan dalilnya adalah Firman Allah Yang Maha Tinggi - Bismillahir rahmaanir rahiim:)

By the age {1}
(Demi Masa) (1)

man is in (a state of) loss {2}
(Sesungguhnya manusia berada dalam (keadaan) yang rugi (2)

unless those who believe and do good deeds, and exhort one another to accept the truth and who exhort one another to endure (consequences with) patience {3} [Surah Al-Asr]
(Kecuali orang-orang yang beriman, melakukan segala amal shalih dan saling nasihat-menasihati untuk (menegakkan) yang haq, serta nasehat-menasehati untuk (berlaku) sabar (3) [QS. Al-Ashr]

قال الشافعي رحمه الله تعالى: ( لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم ).
Imam Shafi'ee said- may Allah bless him- if it was the only surah Allah has sent down to His slaves, it would have been enough for them
(Berkata Imam Syafi'ii - rahimahullah ta`ala - Seandainya Allah hanya menurunkan surat ini saja sebagai hujjah atas makhlukNya tanpa hujjah lain, sungguh telah cukup surat ini sebagai hujjah bagi mereka.)

  وقال البخاري رحمه الله تعالى: باب العلم قبل القول والعمل، والدليل قوله تعالى
: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ [محمد:19]
. فبدأ بالعلم قبل القول والعمل

and Bukhari - may Allah bless him- said Science chapter precedence before words and deeds as signified the textual proof by the word of Allah: Then knowing that there's no God has the right to be worshiped correctly but Allah and beg forgiveness for your sins (surah muhammad: 19)
(Imam Bukhari -rahimahullah - berkata - Bab Ilmu didahulukan sebelum perkataan dan perbuatan dan dalilnya Firman Allah: Ketahuilah Sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan mohon ampunlah atas dosamu (QS. Muhammad: 19) 

Imam Bukhari commented on the above verse saying: Knowledge before words and deeds (Look at Saheeh Al-Bukhari in his book Al-'ilm, chapter.10 - Translator)
Imam Bukhari berkata dalam ayat diatas ini: BERILMULAH TERLEBIH DULU SEBELUM PERKATAAN DAN PERBUATAN (Shahih Bukhari dalam kitab Al-Ilmu Bab.10-pent)


اعلم رحمك الله أنه يجب على كل مسلم ومسلمة، تعلم هذه الثلاث مسائل، والعمل بهن: Knowledge - may Allah bless you- those are obliged to every muslim and muslimah to be learned and applied these three matters:
(Ketahuilah - semoga Allah merahmatimu- Wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk mempelajari dan mengamalkan ketiga perkara ini:)

الأولى: أن الله خلقنا ورزقنا ولم يتركنا هملاً، بل أرسل إلينا رسولاً،
فمن أطاعه دخل الجنة، ومن عصاه دخل النار.
First: Allah has created us and given us sustenance and He has not neglected us but He sent us a Messanger and anyone who obeys him (messanger) shall be entered to jannah and who disobeys will be entered to Hell-fire.
(Pertama: Allah telah menciptakan kita dan memberi kita rezeki dan Dia tidak mengabaikan kita, tetapi Dia mengirimi kita Rasul dan siapa saja yang taat padanya (Rasul) maka akan masuk ke jannah dan yang tidak taat akan masuk ke neraka)

  والدليل قوله تعالى:
إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولاً شَاهِداً عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولاً (15) فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذاً وَبِيلاً [المزمل:16،15].
and the textual proof is the word of Allah:
Indeed We have sent you a messanger who is a witness over you as we have sent Pharaoh a messanger. But Pharaoh disobeyed the messanger so We punished him severely (Al Muzamil:15-16)
(Dan dalilnya adalah Firman Allah:)
(Sesungguhnya Kami telah mengutus kamu seorang Rasul yang merupakan saksi atas dirimu sebagaiman Kami telah mengirim Rasul kepada Fira`un. Tetapi Firaun mendurhakai Rasul itu sehingga Kami mengazab dia dengan sekeras azab. QS. Al-Muzzamil: 15-16)

الثانية: أن الله لا يرضي أن يُشرك معه أحد في عبادته لا ملَك مقرب ولا نبي مرسل.
والدليل قوله تعالى:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً [الجن:18
Second: Allah is not pleased that anyone be worshiped beside Him (shirk), neither an angel who has near to Him nor a commisioned prophet.
And the textual proof is the word of Allah:
And verily, the masjid, it belonged Allah, therefore you never worship anyone was in it but (for worship) Allah. (Al-Jinn: 18).
Kedua: Bahwa Allah tidak rela jika seseorang menyembah selain Dia (syirik), baik dengan seorang malaikat yang terdekat atau dengan seorang nabi yang diutus manjadi rasul.
Dalilnya Firman Allah Ta'ala:
Dan sesungguhnya, masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu Anda tidak pernah menyembah siapapun berada di dalamnya, tetapi (untuk ibadah) kepada Allah. (Al-Jin: 18)

الثالثه: أن من أطاع الرسول ووحّد الله لا يجوز له موالاة من حاد الله ورسوله، ولو كان أقرب قريب.
Third: Who obeys the messanger and believe in oneness of Allah and do not have the best friends with whom oppose Allah and His messanger even though he is the closest of his kin
(Bahwa barangsiapa yang mentaati Rasulullah serta mentauhidkan Allah, tidak boleh bersahabat dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasulnya, sekalipun mereka itu)

والدليل قوله تعالى:
and the textual proof is the word of Allah:
Dan dalilnya adalah Firman Allah:


لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
[المجادلة:22]
You will never find those who believe in Allah and the Final Day of Rising making friends with anyone who is opposed to Allah and His Messenger, even though they are their fathers (and forefathers) or their sons (and grandsons) or their brothers or their near relatives. they are who in their hearts Allah has inscribed faith and has strengthened them with His spirit And He will admit them to the Jannah with streams flowing under them. They will live in them forever. Allah is pleased with them and they are pleased with Allah. It is they who are the Party of Allah. Know it ! It is the Party of (the devotees of) Allah who attain to the lucky. [Surah Al Mujadalah:22]
kamu tidak akan menemukan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dengan berkasih sayang dengan siapa saja yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka adalah bapak-bapak mereka (dan nenek moyang) atau anak-anak mereka (dan cucu) atau saudara-saudara mereka atau mereka kerabat dekat. Mereka ini adalah orang - orang yang telah ditetapkan dalam hatinya keimanan dan telah menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya Dan Dia akan memasukkan mereka ke surga yang mengalir sungai di bawah mereka. Mereka akan tinggal di dalamnya selamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. mereka adalah golongan Allah. ketahuilah ! mereka adalah golongan Allah yang mendapat keberuntungan [QS.Al-Mujadalah : 22]

اعلم أرشدك الله لطاعته أن الحنيفية ملة إبراهيم، أن تعبد الله وحده مخلصاً له الدين، وبذلك أمر الله جميع الناس
وخلقهم لها، كما قال تعالى:
Knowledge, may Allah guide you to obey Him that Islam is the teachings of Prophet Abraham was to worship Allah merely by purifying the obedience to Him. It was commanded by Allah to all of mankind and actually those were they created as the word of Allah:
Ketahuilah, semoga Allah membimbing anda untuk mentaati-Nya bahwa Islam adalah ajaran Nabi Ibrahim yang menyerukan untuk menyembah Allah saja dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Itulah yang diperintahkan oleh Allah untuk seluruh umat manusia dan sebenarnya itulah hakikat diciptakannya manusia sebagaimana firman Allah:

وَمَا خَلَقتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلّا لِيَعْبُدُوِن [الذاريات:56]،
I have not created the Jinn and men except for worshipping Me [Surah Az-Zariyat:56]
Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia melainkan hanya untuk mengibadahi-Ku saja [QS. Adz - Dzariat:56]

ومعنى ِيَعْبُدُوِن يوحدون، وأعظم ما أمر الله به: التوحيد وهو إفراد الله بالعبادة وأعظم ما نهى عنه: الشرك، وهو دعوة غيره معه
Worship in this verse is confessing Tawheed (Allah's oneness) and the greatest commandment is tawheed (Allah's oneness): Tawheed which means purifying all of worships to Allah merely wherese of the greatest ban of Allah was shirk; worshipping other Gods besides worshipping Allah:
Ibadah dalam ayat ini adalah Mentauhidkan Allah (mengesakan Allah) dan perintah Allah yang paling agung adalah Tauhid (Keesaan Allah): Tauhid adalah memurnikan semua peribadahan hanya untuk Allah saja sedangkan perintah Larangan terbesarnya adalah Syirik; yaitu Menyembah tuhan Lain disamping menyembah Allah.

والدليل قوله تعالى: وَاعْبُدُوا اللَّه وَلاَ تُشرِكُوا بِهِ شَيئاً [النساء:36].
and the textual proof is the word of Allah:
Worship Allah and do not make a present rival for Him with anything (shirk) [Surah An Nisa: 36]
Dan dalilnya adalah Firman Allah:
Sembahlah Allah dan janganlah engkau mempersekutukannya (syirik), [QS. An-Nisaa':36]


فإذا قيل لك: ما الأصول الثلاثة التي يجب على الإنسان معرفتها؟
فقل: معرفة العبد ربه، ودينه، ونبيه محمد .
Then if you are questioned: What is the Three Main Fundamentals that should be known by mankind?
Then say: Knowing Allah the almighty and His religion (Islam) and his Prophet Muhammad -may bless and peace be upon him-
Kemudian bila anda ditanya: Apakah Tiga Landasan Utama yang wajib diketahui oleh setiap orang?
Maka katakanlah: Mengenal Allah, Mengenal Agama-Nya (yaitu Islam) dan Mengenal Nabi Muhammad - shalallahu alaihi wa sallam-


-INSHA ALLAH TO BE CONTINUED IN THE NEXT CHAPTER - INSYA ALLAH BERSAMBUNG DI BAB BERIKUTNYA-
readmore »»  

Khutbah Jumat 1 - Bertakwalah dan Matilah dalam keadaan Islam

Oleh Prima Ibnu Firdaus Al-Mirluny di Salaf on facebook 

Khutbah Jumat
”Seruan Untuk Bertakwa dan Mati Dalam Keadaan Islam”

Khutbah 1 :
بسم اللّه الرّ حمن الرّ حيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذبالله من شرورأنفسنا وسيـات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله ألا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداعبده ورسوله :
اللهم صل وسلم على محمد وعلى اله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين .
يأيها الذين ءامنوا اتقوا الله حق تقاته , ولا تـموتن إلا وأنتم مسلمون .
يأيها الناس اتقوا ربكم الذين خلقكم من نفس وحدة وخلق منها زوجها وبث منها رجالا كثيرا ونسآء , واتقوا الله الذى تسآءلون به والأرحام , إن الله كان عليكم رقيبا .
يأيها الذين ءامنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديد , يصلح لكم أعملكم ويغفر لكم ذنوبكم , ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما .
فإن أصدق الـحديث كتاب الله , وخير الـهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتـها , وكل مـحدثة بدعة , وكل بدعة ضلالة , وكل ضلالة في النار . أما بعد :

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman didalam al-Quran surat Ali Imran ayat 102. Firman-Nya :
يـأيّــها الّذين ءامنوا اتّقوا الله حقّ تقاته , ولا تـموتنّ إلاّ وأنتم مّسلمون
“Wahai orang-orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar – benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati, melainkan dalam keadaan (beragama) Islam.” [Q.S 3 : Ali Imran ayat 102]

Saudara ku, Jamaah Sholat Jumat yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala.
Ayat ini berisi seruan dua perintah besar yang hanya bisa dilaksanakan oleh hamba-hamba Nya yang beriman saja. Yaitu para hamba Allah yang membenarkan ketuhanan Nya dengan sebenar – benarnya. Dan kedua perintah itu, tidak lain adalah perintah untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan mati dalam keadaan sebagai seorang muslim.

Saudara ku, Jamaah Sholat Jumat yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala.
Perlu diketahui bahwa perintah untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala yang ditunjukkan kepada orang – orang yang beriman didalam al-Quran terdapat dalam puluhan ayat. Namun, pada ayat ini perintah tersebut datang dalam bentuk lebih tegas lagi yakni “Sebenar – benar takwa kepada-Nya”. Hal inilah yang membuat para ulama bingung. Karena, perintah ini tidaklah mungkin dapat dilaksanakan oleh seorang hamba. Bahkan, seandainya seorang hamba memfokuskan dirinya dan waktunya dalam ketakwaan kepada Allah, hal itu masih belum cukup untuk mewujudkan perintah tersebut yakni sebenar-benar takwa terhadap Allah Yang Maha Pencipta, Yang menjadikan sesuatu dengan berkata : “Jadilah, maka jadilah”, Yang menggenggam seluruh langit dan bumi pada hari kiamat, Yang menghidupan dan mematikan, Yang memuliakan dan menghinakan dan Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Saudara ku, Jamaah Sholat Jumat yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala.
Ulama dari kalangan terdahulu (generasi salafus sholeh) menafsirkan kalimat “Sebenar – benar takwa kepada-Nya” adalah dengan senantiasa mengingat Allah tanpa melupakan-Nya, selalu taat kepada-Nya dan menjauhi larangan-Nya, senantiasa bersyukur kepada-Nya dan menjauhi kufur (Ingkar nikmat).
Inilah makna bertakwa dengan sebenar – benar takwa kepada-Nya, dan ini merupakan suatu yang sangat sulit bagi seorang hamba. Akan tetapi perlu kita ketahui, bahwa seorang hamba yang bertekad kuat didalam dirinya untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenar – benarnya takwa, niscaya Allah tidak akan menyia-nyiakan dan Allah akan membantu dia dalam melaksanakan nya, tentu sesuai dengan kemampuan nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala : “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupan mu.” [Q.S At-Taghabun ayat 16]

Saudara ku, Jamaah Sholat Jumat yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya ketakwaan kepada Allah itu harus diwujudkan dengan mentaati-Nya, mematuhi Rasul-Nya, melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Namun perlu di ingat, bahwa ketaatan itu harus didasari dengan pengetahuan tentang perintah dan larangan tersebut dan petunjuk pelaksanaan nya. Inilah yang kemudian menuntut (mengharuskan) seorang mukmin (yang beriman) untuk terus menggali ilmu pengetahui tentang bagaimana mengenal Allah, asma (nama) dan sifat-Nya dan seterusnya. Karena, dengan mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, akan mampu menumbuhkan kecintaat dan rasa takut kepada-nya. Juga dengan mengetahui perintah dan larangan-Nya, seorang hamba akan terdorong untuk menyukai apa – apa yang disukai oleh Allah dan membenci apa – apa yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
Dengan ketakwaan inilah, seseorang hamba akan termasuk kedalam golongan para kekasih Allah yaitu mereka yang akan meraih keberuntungan didunia dan diakhirat. Dan inilah yang menjadi harapan setiap hamba yang beriman.

Saudara ku, Jamaah Sholat Jumat yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala.
Pada ayat selanjutnya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Dan janganlah sekali-kali kamu mati, melainkan dalam keadaan Islam.” [Q.S Ali Imran ayat 102]
Setelah Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk bertawa kepada-Nya dengan sebenar – benar takwa, maka pada sambungan ayat berikutnya, Allah Subhanahu wa ta’ala melarang orang – orang beriman meninggal dunia dalam keadaan kafir, baik sebagai pemeluk Yahudi, Nasrani atau agama – agama yang lain nya.

Timbul sebuah pertanyaan : “Mungkinkah seorang hamba mampu mempertahankan dirinya agar tetap beriman (sebagai muslim) sampai matinya?”
Jawaban nya adalah : “Setiap hamba harus memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dengan kata lain, ia harus berusaha keras untuk tidak merubah keyakinan dan keimanan nya, serta senantiasa berusaha untuk melakukan ketaatan dan mengharap keridhaan Allah dalam kondisi bagaimanapun. Singkatnya, ia harus senantiasa komitmen dengan keimanan nya terhadap Islam. Dengan cara itulah, -insya Allah- seorang hamba akan meninggal dunia dalam keadaan muslim.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa kunci sukses agar meninggal dunia dalam keadaan islam adalah dengan berkomitmen untuk senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tidak pernah henti – hentinya mengharapkan kepada Allah agar meninggal dunia dalam keadaan memeluk agama Islam.

Dan patut dicatat, bahwa keimanan yang benar lagi kokoh akan membuat seseorang rela dibunuh, disalib, dibakar dan dicabik-cabik tubuhnya daripada dia harus memilih kekafiran.

Maka dari itu, marilah kita lanjutkan perjalanan takwa kita ini hingga sampai disisi Allah kelak. Insya Allah, kita nanti akan sama-sama meninggal dalam keadaan Islam.

أقول ماتسمعون وأستغفر الله لي ولكم ولسائر الـمسلمين فاستغفروه إنّه هو الغفور الرّحيم
---oOo---

Khutbah 2 :

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذبالله من شرورأنفسنا وسيـات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله ألا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداعبده ورسوله :
اللّهمّ صلــّى على مـحمّد وعلى آل مـحمّد , كماصلّيت على إبرهيم وعلى آل إبرهيم إنّك حـميد مـجيد . اللّهمّ بارك على مـحمّد وعلى آل مـحمّد , كما باركت على إبرهيم وعلى آل إبرهيم إنّك حـميد مـجيد .
ربّنا لا تؤاخذنآ إن نّسينآ أو أخطأنا , ربّنا ولا تـحمل علينآ إصرا كما حـملته على الّذين من قبلنا , ربّنا ولا تـحملنا مالا طاقة لنابه , واعف عنّا واغفر لنا وارحمنآ , أنت مولىنا وانصرنا على القوم الكفيرين .
والـحمد لله ربّ العالـمين . وأقم الصّلاة .

[Materi khutbah ini diambil dari kitab Nida’atu ar-Rahman li Ahli al-Iman karya Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi rahimahullah – Seruan Untuk Bertakwa dan Mati Dalam Keadaan Islam]

Disalin, ditulis, diringkas dalam bentuk khutbah pada :
Jambi, 8 Rabi’ul Akhir 1433 H / 2 Maret 2012 M
Abu Abdillah Prima Ibnu Firdaus ar-Rani al-Mirluny
readmore »»  

Syirik Penyebab Kehancuran


Oleh Khairin Syamruddin An Nagarawy di Salaf on facebook

Ketika umat ditimpa berbagai macam krisis, baik krisis ekonomi, moral, akhlaq maupun aqidah, mulailah berbagai macam organisasi dakwah dan tokoh-tokoh para dai mencari solusi. Mereka berupaya untuk melepaskan umat dari berbagai macam krisis tersebut.
Sebagian mereka memulainya dengan memperbaiki dari sisi ekonomi. Sebagian lainnya berpendapat bahwa tidak akan selesai krisis ini kecuali dengan memperbaiki akhlaq.

Bahkan sebagian yang lainnya mengatakan kita harus menyelamatkan umat dengan menguasai negara dan memperbaikinya dari sisi politik. Hampir tidak ada seorang pun di antara mereka yang berpendapat bahwa penyebab semua krisis itu adalah krisis tauhid dan menyebarnya berbagai bentuk kesyirikan-kesyirikan yang menimpa umat.

Oleh karena itu apabila ada sekelompok umat yang memulai dakwahnya dengan memperbaiki sisi tauhid dan memperingatkan umat dari bahaya kesyirikan, mereka beramai-ramai menganggapnya sebagai orang yang tidak mengerti sikon (situasi dan kondisi), tidak paham fiqhul waqi’ (kenyataan yang ada), tidak memiliki wawasan politik, tidak mengikuti zaman dan seabrek tuduhan lainnya. Padahal sesungguhnya bahaya kesyirikan lebih besar dari bahaya kelaparan dan kekeringan.

Hal itu karena apabila seseorang terjatuh dalam kesyirikan, maka akan runtuhlah keislamannya dan hilanglah makna kehidupan ini. Bukankah kita tercipta untuk beribadah kepada Allah dan tidak boleh mempersekutukan-Nya?. Dengan tauhid dan keimanan yang benar, segala macam krisis akan dapat diatasi. Dengan ketaqwaan kaum muslimin kepada Allah, Allah akan bukakan barokah dari langit dan bumi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ. ألأعراف: 96
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al-A’raaf: 96)
Dengan ayat di atas Allah menjelaskan bahwa jika suatu kaum senantiasa beriman dan bertaqwa kepada-Nya maka Allah akan memberikan barakahNya. Tapi sebaliknya jika mereka mendustakan ajaran Allah, kafir, ingkar kepada Allah dan rasul-Nya, dengan berbuat kesyirikan dan kebid’ahan, maka barokah tersebut akan tercabut. Ini adalah bahaya kesyirikan di dunia. Adapun bahaya kesyirikan di akhirat lebih besar lagi. Allah tidak akan mengampuni pelakunya dan Allah pasti akan mengadzabnya.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا. النساء: 48
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (an-Nisaa’: 48)

Karena itu pula seluruh para nabi memperingatkan umatnya dari kesyirikan. Nabi Ibrahim, bapak para nabi dan bapak tauhid pun berdoa meminta kepada Allah agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari kesyirikan.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ ءَامِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ اْلأَصْنَامَ. ابراهيم: 35
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (Ibrahim: 35)

Beliau menjelaskan alasan takutnya beliau dari kesyirikan yaitu karena peribadatan terhadap berhala telah banyak menyesatkan manusia.

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ. ابراهيم: 36
Ya Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia. Barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ibrahim: 36)

Jika nabi yang mulia, bapak para Nabi, dan bapak Tauhid mengkhawatirkan dirinya dari kesyirikan maka tentunya seseorang yang bukan Nabi lebih dikhawatirkan untuk terjerumus ke dalam kesyirikan-kesyirikan. Berkata Ibrahim At-Taimi: “Siapakah yang merasa aman dari kesyirikan setelah Ibrahim?”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memperingatkan para shahabatnya dari bahaya kesyirikan dengan sabdanya:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ. فَسُئِلَ عَنْهُ؟ فَقَالَ: الرِّيَاءُ رواه أحمد وصححه الألباني
Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. Para shahabat bertanya: “Apa itu syirik kecil?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Ar-Riya’. (HR. Ahmad dan Syaikh al-Albani menshahihkannya)

Dalam hadits di atas Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mengkhawatirkan kesyirikan yang kecil terhadap para shahabat-shahabatnya yang besar kedudukannya.
Dari sini menunjukkan kalau pada diri shahabat yang mulia masih dikhawatirkan terjatuh dalam kesyirikan, tentunya terlebih lagi pada umat yang setelahnya. Karena orang yang setelah mereka jauh lebih rendah tingkat keimanan, ketaqwaan dan keilmuannya, sehingga sangat dikhawatirkan akan terjerumus dalam kesyirikan. Tidak hanya kesyirikan-kesyirikan kecil bahkan sangat mungkin terjerumus dalam syirik-syirik besar yang akan mengeluarkan mereka dari agamanya tanpa terasa.

Berarti kita harus lebih takut dan lebih berhati-hati dari bahaya kesyirikan yang mengancam manusia, karena tidak ada seorang pun yang dijamin aman oleh Allah dari bahaya tersebut.

Yang lebih mengharuskan kita takut adalah adanya kesyirikan yang sangat samar. Bagaikan semut hitam di atas batu hitam di malam yang kelam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

الشِرْكُ أَخفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ. قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَهَلْ الشِّرْكُ إِلاَّ مَا عُبِدَ مِنْ دُوْنِ اللهِ، أَوْ مَا دُعِيَ مَعَ اللهِ؟ قَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، الشِّرْكُ فِيْكُمْ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ. رواه أبو يعلى وابن المنذر

Kesyirikan itu lebih samar dari rayapan semut. Abu Bakar (terkejut) dan bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “Wahai Rasulullah bukankah kesyirikan itu adalah hanya beribadah kepada selain Allah atau menyeru kepada selain Allah?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Engkau mengecewakan ibumu! Sungguh kesyirikan di antara kalian lebih samar dari rayapan semut.” (HR. Abu Ya'la dan Ibnul Mundzir).

Maka kita harus ekstra hati-hati dan harus melindungi diri dari kesyirikan-kesyirikan tersebut dengan dua cara.

Pertama, kita harus selalu berdoa kepada Allah, berlindung dari kesyirikan-kesyirikan tersebut, di antaranya dengan doa:

أَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ. (رواه أحمد وصححه الألباني في صحيح الترغيب 1/19)
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui dan kami meminta ampun kepada-Mu dari apa yang kami tidak ketahui. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih at-Targhib, 1/19)

Kedua, kita harus mencari ilmu dan belajar, khususnya tentang tauhid dan syirik. Dengan ilmu tersebut pandangan kita semakin tajam dan jeli. Dapat melihat kesyirikan sekecil apa pun. Sebaliknya tanpa ilmu sering manusia terjerumus ke dalam kesyirikan bahkan kesyirikan yang besar dalam keadaan tidak sadar dan merasa dirinya sedang berbuat baik.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً ]103[ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا . أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (al-Kahfi: 103-105)

Tanpa ilmu tentang tauhid dan hal-hal yang merusaknya berupa kesyirikan-kesyirikan kadang manusia mengucapkan satu kalimat yang dianggap biasa (tidak ada apa-apanya) ternyata menjerumuskan dirinya ke dalam neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Dalam riwayat lain dikatakan tersungkur ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ. رواه البخاري ومسلم
Sesungguhnya seorang hamba berkata dengan satu kalimat, ternyata dengan kalimat itu ia tersungkur ke dalam api neraka sejauh antara timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika seseorang berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam :

مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ

Ini adalah kehendak Allah dan kehendakmu
maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menegurnya dengan keras dan bersabda:

أَجَعَلْتَنِيْ لِلَّهِ نِدًّا؟! بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ. رواه أحمد وابن أبي شيبة والبخاري في الأدب المفراي والنساء وابن ماجه
Apakah engkau akan menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah? Bahkan (katakan) hanya kehendak Allah semata. (HR. Imam Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Bukhari dalam Adabul Mufrod dan Nasa’i dan Ibnu Majah).

Kesyirikan sangatlah berbahaya, karena dapat mengakibatkan kejelekan-kejelekan di dunia dan di akhirat, diantaranya:

Syirik merupakan kedurhakaan kepada Allah. Karena tidaklah manusia dan jin diciptakan kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya semata. Tetapi kaum musyrikin justru beribadah kepada selain Allah yang menciptakannya. Ini adalah kedurhakaan yang besar.

Kesyirikan merupakan penghinaan terhadap Allah. Karena seorang yang beribadah kepada selain Allah berarti dia menyamakan sesembahannya itu dengan Allah atau mendudukkan makhluk tersebut seperti kedudukan Allah. Sungguh sebuah penghinaan besar, menyamakan Allah yang menciptakan seluruh alam dengan ciptaan-Nya yang sangat lemah dan serba terbatas.

Kesyirikan akan menggugurkan amalan. Jika sebuah amalan shalih diiringi dengan riya’, maka akan gugurlah amalan-amalan tersebut dan tidak bernilai di sisi Allah. Dan jika seorang hamba melakukan syirik besar, maka akan gugur seluruh amalan-amalannya walaupun amalannya seperti amalan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. الزمر: 65
Jika kamu mempersekutukan (Rabb-mu), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (az-Zumar: 65)

Syirik menghalangi pelakunya untuk masuk ke dalam surga. Seseorang yang amalannya gugur dengan perbuaan syirik yang dia lakukan, maka Allah tidak memberikan balasan sedikitpun terhadap amalan shalihnya. Bahkan sebaliknya ia akan mendapatkan adzab dari Allah karena kedurhakaan dan penghinaan kepada Allah dengan kesyirikan yang dia lakukan. Maka pantaslah Allah mengharamkan mereka –para musyrikin - tersebut dari surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارَ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍِ المائدة: 72
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (al-Maidah: 72)

Dosa syirik tidak akan diampuni. Jika seseorang mati membawa dosa syirik dan ia belum bertaubat darinya, maka Allah tidak akan mengampuninya. Adapun bagi dosa selainnya, maka hal itu di bawah kehendak Allah yakni masih memungkinkan untuk diampuni oleh Allah.
Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ. النساء: 48
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (an-Nisaa’: 48)

Disamping itu masih banyak lagi akibat-akibat jelek yang ditimbulkan oleh kemaksiatan-kemaksiatan di dunia dan di akhirat yang telah dijelaskan oleh para ulama. Karena kesyirikan adalah sebesar-besar kemaksiatan, maka dampak jeleknya adalah paling besar seperti merusak hati, mengurangi keyakinan dan keimanan, mematikan hati, menyempitkan dada, menghilangkan ketenangan, menyebabkan hilangnya wibawa, terhina dan lain-lainnya. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى. طه: 124
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (Thaha: 124).

Wallahu a’lam

Sumber : Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 07/Th. I 28 Sya’ban 1424 H
readmore »»  

Senin, 25 Juni 2012

KAIDAH TAUHID ASMA WA SHIFAT : NAMA-NAMA ALLAH ADALAH TAUQIFIYYAH (HARUS ADA DALILNYA)

Oleh Tommi Marsetio di Salaf on facebook 
Berdasarkan kaidah ini, wajib bagi kita mengambil nama-nama Allah hanya dari Al-Qur'an dan Sunnah; tidak boleh menambah atau mengurangi. Karena akal tidak mampu mengetahui nama-nama yang pantas bagi Allah. Berdasarkan firman Allah Ta'ala :
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [QS Al-Isra' : 36]

dan firmanNya :
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui". [QS Al-A'raaf : 33]

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata :
Yang dimaksud adalah perbuatan dusta dan hal-hal yang diada-adakan seperti pengakuan bahwa Allah beranak dan lain sebagainya yang kalian tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. [Tafsir Al-Qur'anil 'Azhim, QS Al-A'raaf]

Juga, karena memberikan nama untuk Allah Ta'ala dengan nama yang tidak dia kehendaki atau mengingkari nama yang Dia kehendaki menjadi nama bagiNya adalah satu pelanggaran terhadap hak Allah. Wajiblah bagi kita berlaku sopan kepada Allah. Oleh karena itu, dalam memberikan nama untuk Allah, cukuplah dengan yang ada di dalam nash-nash saja.

Al-Allamah Ibnul Qayyim berkata :
Kemudian perbuatan dosa yang bahayanya besar berikutnya adalah membicarakan tentang Allah tanpa dasar ilmu, baik dalam masalah nama, sifat dan perbuatanNya atau menggambarkan sifat-sifatNya dengan sifat-sifat yang berlawanan dengan yang disebutkan Allah dan RasulNya. Ini lebih bertentangan dan berlawanan dengan hikmah Allah dan mencela rububiyah dan kemuliaan sifatNya, apalagi bila tindakan ini disertai dengan ketidakpahaman ilmu, maka ini jelas lebih jelek dari perbuatan syirik dan lebih besar dosanya di sisi Allah. Karena seorang musyrik yang masih mengakui rububiyah Allah masih lebih baik daripada orang yang menentang rububiyah Allah yang merupakan sifat sempurna Allah. [Al-Jawab Al-Kafi hal. 253-254]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Al-Qawa'idul Mutsla fi Shifatillah wa Asma'ih Al-Husna
Tahqiq : Abu Muhammad Asyraf Abdil Maqshud
--dengan sedikit tambahan tanpa mengubah esensi judul--
readmore »»  

ILMU USHUL BIDA' (ILMU LANDASAN UTAMA BID'AH)


Oleh Maktabah Manhaj Salaf di Salaf on facebook · 

Daar ar-Raayah, Riyadh



BAB 1: KAIDAH-KAIDAH UMUM


FASAL 1: MAKNA BID'AH


Imam ath-Thurthusyi dalam al-hawadits wal bida'u [1] berkata:
asal dari kata ini adalah al-ikhtira [2] yakni sesuatu yang terjadi tanpa adanya asal sebelumnya, tidak pula contoh yang dilakukan sebelumnya."

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
Allah adalah pencipta langit dan bumi. (al-Baqarah: 117)

قُلْ مَا كُنتُ بِدْعاً مِّنْ الرُّسُلِ
Katakanlah, aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul. (al-Ahqaf: 9)
atau, aku bukanlah rasul pertama untuk penduduk bumi ini.

Dan maksud ini [3] juga mencakup sebutan untuk segala yang diada-adakan oleh hati, lisan dan anggota badan.

Dan makna seperti ini pun dinukil oleh Imam Abu Syamah al-Maqdisi di kitabnya {al-Baa'itsu 'ala inkari al-Bida'i wal Hawaaditsi, hlm.20, lalu ia berkata:


Sering kali Lafazh bid'ah berkonotasi untuk hal-hal yang makruh dalam agama, sama halnya dengan kata mubtadi'. Hampir semua penggunannya berkonotasi kepada hal-hal yang makruh.
Adapun dalam asal-usul pengambilannya, kata bid'ah ini seringkali digunakan pada hal-hal yang mengandung pujian dan celaan maksud. Sebab, sebuah maksud merupakan sesuatu yang baru yang tidak memiliki kesamaan sebelumnya. maka dari itu, dalam mengungkapkan sesuatu yang indah sering menggunakan ungkapan:
"Tidaklah ia melainkan sesuatu yang bid'ah (indah)."

Dan Berkata al-Jauhary dalam kitabnya shihaahu lughah [4]: al-Badii'u, al-Mubtada' dan bid'ah mengandung arti sesuatu yang baru dalam perkara agama setelah sempurna (agama ini,-pen) 

Maka dengan demikian 
Bid'ah adalah [5] suatu thariqah (tata-cara) dalam agama yang dibuat-buat dan menyerupai syari'at dengan maksud untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah.

Maka pandangan Imam Asy-Syaithibi di dalam kitabnya (al-I'tisham 1/37):
hal tersebut adalah definisi (bid'ah) yang paling sempurna.

kemudian saya ringkas keterangan al-Jauhary rahimahullah dengan rinci menerangkan definisi tersebut, berkata rahimahullah:

1. Thariqatun fiddien (tata cara dalam agama)
at-thariqatu, wat thariqu, wassabiilu, wassunan, memiliki satu arti yaitu sesuatu yang digambarkan untuk berjalan diatasnya.
dikaitkannya thariqah (tata-cara) tersebut dengan agama karena kepada agama ini ia (bid'ah, red) dibuat dan kepada agama ini disandarkan oleh pelakunya.

2. Mukhtara'atun (yang diada-adakan)
Karena ath-thariqah (tata-cara) dalam agama terbagi menjadi; yang mempunyai landasan dalam syariat, dan yang tidak memiliki landasan dalam syariat (muhdats/yang diada-adakan), yang dimaksudkan dengan definisi ini yaitu bagian yang diada-adakan.



Atau: sebuah tata cara baru yang tidak memiliki contoh dari pembuat syari'at [6] maka dari itu bid'ah spesifikasinya adalah mengenai hal-hal yang keluar dari penjelasan syari'at.

3. Tudhaahisy Syar'iyyata (menyerupai syari'at)
Yakni: menyamai tata cara yang diatur oleh syariat, padahal hakikatnya tidak begitu, bahkan bertentangan dengan syariat bila dilihat dari berbagai sisi, antara lain adanya ketentuan tata cara dan bentuk-bentuk tertentu tanpa izin syara' (Allah & Rasul-Nya). dan adanya ketentuan-ketentuan ibadah tertentu yang tidak ditemukan dalam syari'at.

4. Yuqshadu bissuluuki 'alaiha mubaalaghatu fii ta'abudillahi ta'ala (dengan maksud berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah)
Inilah kesempurnaan makna dari Bid'ah dan inilah maksud diadakannya sebuah bid'ah.

Maka dari itu memasuki daerah bid'ah akan mendorong orang untuk beribadah kepada Allah, karena Allah subhanahu wa ta'ala berfirman
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku {Adz-Dzariat: 56} 
Maka Seorang pelaku bid'ah akan mengira bahwa makna ibadah dalam ayat ini dan tanpa mencari tahu bahwa Syara' (agama) telah menetapkan aturan-aturan tertentu yang mencukupi. maka para pelaku bid'ah itu pun melampaui batas dan melakukan tambahan-tambahan, mengulangi dan terus mengulanginya.

saya (syaikh Ali al-halabi al-atsary) berkata:
Pengertian lain yang dimaksud dengan bid'ah adalah perkara-perkara baru yang bertentangan dengan kebenaran dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, baik berupa ilmu, amal, atau hal (kondisi) dengan adanya penyerupaan atau asumsi baik serta dijadikan sebagai agama yang tegak dan jalan yang lurus [7]



Berkata Al-Fairuz Abadi dalam kitab Bashaairu Dzawi at-Tamyiizi (2/231):
Bid'ah: adalah perkara-perkara baru dalam agama setelah agama ini sempurna.
dan dikatakan pula: Bid'ah adalah perkara-perkara yang baru setelah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, baik berupa perkataan atau perbuatan. dan bentuk jamaknya bida'.
dan dikatakan pula bid'ah: adalah suatu perkataan atau perbuatan yang pelakunya tidak mengikuti Allah dan Rasul-Nya dan juga tidak mengikuti contoh-contoh terdahulu dan landasan-landasan yang terpelihara.

Pendapat serupa juga terdapat di dalam al-Qamuus hal.906
Dengan berbagai penetapan di atas, anda dapat mengetahui kekeliruan orang-orang yang mendefinisikan bid'ah sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi di kurun tiga generasi awal dan tidak memiliki landasan daripada landasan-landasan yang empat. [8]

Untuk pembahasan lebih lanjut insya Allah akan kami paparkan dalam pembahasan berikutnya.

_______
footnote:
1. hal.40 tahqiq dari saya, disebarluaskan oleh Daar Ibni al-Jauzy, Damam
2. Lisanul Arab 9/351, Maqayisu al-Lughati 1/209, dan al-Qamus al-Muhith hal.906
3. Yakni Bid'ah
4. Mukhtaruhu hal.44
5. al-Mi'yar al-Mu'rib ... (1/352 dan 357) al-Wansyarisi
6. Lihat; Mu'jam alManahi al-Lafzhiyah, hal.304
7. Perkataan Asy-Syummany sebagaimana yang dinukil oleh al-'Adawiy dalam Ushulun fi al-Bida' hal.26
8. Iqomatul al-Hujjati 'ala Anna al-Ikhtsaara min at-Ta'abbudi Liasa Bid'atin Hal.12 Al-Laknawiy

[Alhamdulillah, Bab.1 Fasal.1 telah selesai, insya Allah untuk Fasal.2 menyusul dilain waktu, MMS]
readmore »»